Dec 27, 2010

Percaya padaku..



Aku tak tahu apa yang kurasakan
Dalam hatiku saat pertama kali
Lihat dirimu melihatmu
Seluruh tubuhku terpaku dan membisu
Detak jantungku berdetak tak menentu
Sepertinya aku tak ingin berlalu
Berikan cintamu juga sayangmu
Percaya padaku ku ‘kan menjagamu
Hingga akhir waktu menjemputku
Ku berikan cintaku juga sayangku
Percaya padaku ku ‘kan menjagamu
Hingga akhir waktu menjemputku
Saat ku tahu kau akan pergi jauh
Izinkan aku ‘tuk selalu menatimu
Untuk katakan ku ingin dirimu
Agar kau tahu betapa ku terlalu
Mencintaimu aku akan menunggu
Hingga dirimu kembali untukku
Tolonglah aku bagaimana diriku
Ungkapkan itu rasa yang membelenggu
Dalam hatiku ku cinta padamu
Surat untuk kekasih - (bhg.2) ~ ainnLee

Hari ini cuaca cerah..tapi langitku mendung
Bukan sebab hujan tapi aku kesepian
Di tinggalkan di Shah Alam
Bertemankan bintang kecil
yang rancak mengomel tanpa sebab

Pulang segera cahaya hati
Aku di sini menanti...

Dec 21, 2010

Surat untuk kekasih...(Bhg.1) ~ainnLee

Lately, aku banyak mengenangmu di masa lalu..masa remajamu.
masa kau dan aku bukan satu.
Mengenang masa lalu, di mana aku terlalu merinduimu...
mengenang keluh resah kala aku mencarimu....
satu dunia mencarimu.

Hari ini, langkah ku atur ke arahmu.
Setiap nafas yang ku hela keranamu.
Kau yang mencipta...kau yang mewarnakan hidup
Masakan kau tak tau...jika aku tak ucapkannya walau sekali

Lately..kau dan aku berbicara kisar hidup dan mati
Mampukah kau teruskan hidup bersama sinar bintang yang ku tinggalkan
Mampukah kau terus menjaga bintang hatiku bersama tinggalan sentuhan dan pelukan
Mampukah kau menjaga setiap pesan yang ku wasiatkan...
Tapi aku tak mampu...
Meninggalkan nyawa di sini

Hari ini..mahukah kau berjanji
Lalui jalan yang panjang ini bersamaku
Lalui masa yang sukar ini bersamaku
Mahukah kau teruskan sehingga kita menghampiri hari tua
Sehingga aku boleh tertawakan dikau
bersama kedut wajah dan rambut putih
Mahukah kau melihat rambut lebatku makin nipis
yang hitam itu makin kelabu

Mahukah kau berjanji
Untuk terus bersamaku..






Dec 19, 2010

Kehidupan Sebuah Cinta ~ Khalil Gibran

Kehidupan Sebuah Cinta ~ Khalil Gibran

MUSIM BUNGA
Marilah, sayang, mari berjalan menjelajahi perbukitan,Salju telah cair dan Kehidupan telah terjaga dari lenanyadan kini mengembara menyusuri pegunungan dan lembah-lembah,Mari kita ikut jejak-jejak Musim Bunga, yang melangkauiLadang-ladang jauh, dan mendaki puncak-puncak perbukitan‘Tuk menadah ilham dari aras ketinggian,Di atas hamparan ngarai nan sejuk kehijauan.
Fajar Musim Bunga telah mengeluarkan pakaiannyadari lipatan simpanan, dan menyangkutnyapada pohon pic dan sitrus , dan mereka kelihatan bagai pengantin dalam upacara tradisi Malam Kedre..
Sulur-sulur daun anggur saling berpelukan bagai kekasihAir kali pun lincah berlompatan menari ria,Di sela-sela batuan, menyanyikan lagu riang.
Dan bunga-bunga bermekaran dari jantung alam,Laksana buih-buih bersemburan, dari kalbu lautan
Kemarilah, sayang: mari meneguk sisa air matamusim dingin, dari gelas kelopak bunga lili,Dan menenangkan jiwa, dengan gerimis nada-nadaCurahan simfoni burung-burung yang berkicauandan berkelana riang dalam bayu mengasyikkan
Mari duduk di batu besar itu, tempat bunga violetberteduh dalam persembunyian, dan meniruKemanisan mereka dalam pertukaran kasih rindu.


MUSIM PANAS
Mari pergi ke ladang, kekasihku, keranaMusim menuai telah tiba, dan cahaya suriaTelah memanggang gandum kuning-kekuningan.
Mari kita mengerjakan hasil bumi, sebagaimana semangat kegembiraan menyuburkan butir gandumDari benih cinta-kasih, yang tertanam dalam sanubari.Mari mengisi guni kita dengan limpahan hasil bumibagai kehidupan mengisi penuh rongga hati,Dengan harta kekayaan tak terperi,Mari, jadikan bunga-bunga alas tilam kitaDan langit biru selimut kitaSandarkan kepala di bantal harum jerami,Mari kita berehat setelah bekerja sepanjang hari,Sambil mendengar bisik gemercik air sungai yang menyanyi.


MUSIM GUGUR
kita pergi memetik anggur di perkebunanDan memerah sari buah segarDan menyimpannya di jambangan tuaSebagaimana jiwa menyimpan ilmu pengetahuanAbad-abad lalu, dalam gedung keabadian.
Dan sekarang mari pulang, kerna sang bayu telahMenerbangkan daun-daun kuning dan mengisar bunga-bunga layuYang membisikkan dendang kematian pada Musim GugurMari pulang, kekasihku abadi, kerana burung-burungTelah terbang bagi perjalanan migrasi menuju kehangatanMeninggalkan padang yang dingin dan kesepian.Bunga mirtel dan melati pun telah lamaMengeringkan air matanya.
Mari kembali, sebab anak sungai yang sayuTelah kehabisan lagu, dan sumber air yang lincahTelah membisu, enggan mengucapkan kata perpisahan.Sedang bukit-bukit tua telah mulai melipatpakaiannya yang berwarna-warni.
Mari, kekasihku; Alam telah letih,Ia bersemangat melambaikan selamat tinggalDengan dendangan sayup dan ketenangan.


MUSIM DINGIN
Dekatlah ke mari,oh teman sepanjang hidupku,Dekatlah padaku, dan jangan biarkan sentuhan Musim Dingin,Mencelah di antara kita. Duduklah disampingku di depan tungku,Sebab nyalaan api adalah satu-satunya nyawa musim ini.
Bicaralah padaku tentang kekayaan hatimu,Yang jauh lebih besar daripada unsur Alam yang menggelodakDi luar pintu.Palanglah pintu dan patri engselnya,Sebab wajah angkasa menekan semangatkuDan pemandangan ladang-ladang saljuMenimbulkan tangis dalam jiwaku.
Tuangkan minyak ke dalam lampu, jangan biarkan ia pudar,Letakkan dekat wajahmu, supaya aku boleh membaca dalam tangisApa yang telah ditulis pada wajahmuTentang kehidupan kau bersamaku..
Berilah aku anggur Musim Gugur, dan mari minum bersamaSambil mendendangkan lagu kenangan pada ghairah Musim BungaDan layanan hangat Musim Panas, serta anugerahtuaian dari Musim Gugur.
Dekatlah padaku, oh kekasih jiwaku; api mendingin dalam tungku,Menyelinap padam nyalanya satu-satu, dari timbunan abuDakaplah aku, sebab aku ngeri akan kesepian.Lampu meredup, dan anggur minuman membuat mata sayu mengatup.Mari kita saling berpandangan, sebelum mata tertutup.
Cari aku dengan rabaan, temui daku dalam pelukanLalu biarkan kabus malam merangkul jiwa kita menjadi satuKucuplah aku, kekasihku, kerana Musim Dingin,Telah merenggut segala, kecuali bibir yang berkata:Engkau dalam dakapan, oh Kekasihku Abadi,Betapa dalam dan kuat samudera lena,Dan betapa cepatnya subuh…

Hujan Air di Shah Alam

~hujan air di Shah Alam - ainnLee~

Semalam tak check pun ramalan kaji cuaca
Tapi semalam dan hari ini sama saja
Aku tercari-cari di mana dia terik cahaya
Buat pengering baju yang ku sidai sejak malam hari

Mungkin dia ada di situ
Tersenyum padaku
Namun malu-malu

Hujan air di Shah Alam
Kini telah mula
Masa utk mencari payung
Berteduh di bawah bumbung
Mula membelek handphone
Kalau ada sms dari suami tersayang
Bila nak tiba menjemputku pulang

Hujan ini tak akan reda
Makin lebat pula jadinya

~~inspired by Ana Raffali.